SETELAH TIGA HARI, GADIS ASAL ATAMBUA DITEMUKAN DI
KOTA BARU
Seorang gadis asal
Atambua-Timor, sebut saja namanya Bunga (16) ditemukan di Kota Baru-Ende-NTT
setelah tiga hari menghilang. Bunga menghilang sejak Sabtu (29/9.2012) pagi di
Pelabuhan Lorens Sai – Maumere dan ditemukan dalam keadaan kelaparan. Sabtu
pagi itu, siswi kelas X SMK St. Elisabeth Lela-Maumere baru saja pulang berobat
di Kampung halamannya. Ia menumpang Kapal Bukit Siguntang di Kupang pada Jumat
(28/9/2012) dan tiba di Maumere Sabtu pagi. Sejak turun dari Kapal, Bunga
menghilang dan handphonenya tidak aktif sehingga mencemaskan seluruh
keluarganya baik yang ada di Atambua maupun di Maumere.
Sebelum
berangkat dari Kupang, Bunga mengirim pesan singkat kepada saudaranya di
Maumere untuk menjemputnya di Pelabuhan. Tetapi saat menanti saudaranya,
seorang Ojek yang tidak dikenal memaksa korban untuk dihantar ke Lela. Ojek
tersebut mengangkat tas dan barang lain milik korban sehingga korban terpaksa
menaiki motor Ojek tersebut. Ketika saudaranya mencari Bunga di Pelabuhan,
korban sudah tidak ada. Karena handponenya tidak aktif, saudaranya menanyakan
keberadaan Bunga di Asrama susteran SSpS Lela. Hingga sore hari, korban belum
juga masuk asrama. Karena itu, keluarga dan kenalannya di Maumere mulai mencari
Bunga di kenalan-kenalannya.
Pencarian
Bunga dilanjutkan hingga Minggu (30/9/2012) malam melibatkan Kepolisian Sikka,
Staf Divisi Perempuan TRUK-F dan keluarga serta kenalannya. Pencarian ke
berbagai tempat yang dicurigai tidak membuahkan hasil sementara HP korban masih
tetap nonaktif. Senin pagi sekitar pukul 7.30, korban mengirim SMS kepada
saudara dan orangtuannya bahwa dia berada di Kota Baru-Ende bagian Utara.
Segera setelah mendapat SMS, keluarga dan kenalannya berangkat menuju Kota Baru.
Korban ditemukan di jalan dekat Kantor Camat Kota Baru dan segera dibawa ke
rumah dinas Camat Kota Baru. Dengan bantuan Camat setempat, korban korban yang
dalam keadaan depresi dilarikan ke Puskesmas Kota Baru untuk mendapatkan
perawatan. Bunga kemudian dibawa ke Rumah Aman TRUK-F di Maumere sebelum
dilarikan ke Rumah Sakit St. Elisabeth Lela karena masih sering pingsan.
“Sabtu
pagi saya terpaksa mengikuti Ojek karena dia ambil barang-barang saya. Saya
takut karena dalam tas saya ada uang dua setengah juta rupiah. Dia (Ojek)
memang tidak kasar dengan saya selama dalam perjalanan, tetapi ketika melewati
cabang menuju Lela dia jalan terus. Saya memberitahu dia kalau cabang ke Lela
sudah lewat, tetapi dia mengatakan kita akan lewat jalan pintas. Lalu dia bawa
terus saya hingga ke Detusoko dan kemudian ke arah utara menuju Kota Baru.
Sampai di Kota Baru sekitar jam empat sore lalu dia menyuruh saya turun dan
minta bayaran seratus ribu rupiah. Karena sudah sore, ada satu ibu yang
mengajak saya menginap di rumahnya,” cerita Bunga sambil menangis.
Vester Eko, staf Divisi
Perempuan Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRUK F) mengatakan bahwa selama
dua malam korban menginap di rumah seorang ibu yang tidak dikenalnya. Sejak
ditemukan korban sering pingsan dan berteriak histeris. Selain itu korban belum
bisa menceritakan kejadian ini karena masih trauma. Dari hasil visum, memang
tidak ada tanda-tanda kekerasan tetapi korban mengalami trauma. Selain trauma,
uang korban hanya tersisa satu juta tiga ratus rupiah dari sebelumnya dua juta
lima ratus ribu rupiah.
Eko menambahkan bahwa kejadian
seperti ini sering terjadi di Maumere. Banyak perempuan dan anak-anak yang
dibawa lari orang tak dikenal. Kita mesti lebih waspada dan jangan cepat
percaya dengan bujuk rayu orang lain karena perdagangan orang di Sikka cukup
tinggi. Sikka juga merupakan daerah yang rawan kekerasan kepada perempuan dan
anak.